Blog

PRIORITY(1)

Prioritas itu adalah soal urutan

Peristiwa ini terjadi di lapangan tennis di Jakarta bulan lalu, seorang ball-boy berusia belasan tahun menantang beberapa petenis setelah usai bermain. “Kalau ada dari Anda yang mampu mengalahkan saya, maka fee ball-boy akan saya kembalikan penuh kepada Anda, tapi sebaliknya kalau Anda kalah tolong ajak saya makan pagi.”

Saya mengamatinya dari kejauhan, peristiwa ini seru pikir saya.

“Bapak-bapak ada sebuah kaleng kosong disini, ada 20 buah bola tennis, ada pasir, ada kerikil lalu ada 20 gelas besar berisi air minum kopi. Oke, saya beri bapak waktu masing-masing 1 menit untuk memilih lalu memasukkan benda-benda ini ke dalam kaleng, jika tepat urutannya dan semua benda ini bisa masuk maka ia akan keluar sebagai pemenang”, kata ball-boy itu semangat.

Petenis pertama asal Jepang memasukkan semua air kopi ke dalam kaleng, lalu pasir, kemudian kerikil batu dan hanya 5 bola tennis mengambang yang bisa masuk. “Salah strategi!” teriak si ball-boy.

Tak mau kalah, petenis asal India ngotot sebagai peserta kedua, kali ini ia masukkan kerikil batu, pasir dan sisanya air kopi, karena sudah terlalu penuh bola tennis tidak bisa masuk. “Tuan kalah, bola tennis tersisa di luar harusnya ikut masuk!”, tegas ball-boy itu. Seorang bule yang menonton penampilan kawannya yang gagal sejak tadi penasaran, ia kemudian memasukkan pasir di urutan pertama, kemudian kerikil, bola tennis yang sudah dimasukkan ia keluarkan lagi lalu diganti air kopi dan terakhir ia hanya mampu memasukkan 3 bola tennis.

Ball-boy itu tersenyum dan memperagakan cara memasukkan benda-benda itu sambil berkata demikian, “Bapak-bapak yang harus dimasukkan dahulu itu bola tennisnya. Begini ilustrasinya anggaplah bola ini sebagai simbol “keluarga” ia haruslah ditempatkan pada posisi yang pertama,  kemudian benda-benda lain seperti pasir, batu kerikil dan air kopi anggaplah itu sebagai simbol dari “pekerjaan di kantor”, “hobby”, “aktivitas lain” karena sifatnya hanya melengkapi kehidupan ini, maka letakkanlah mereka di urutan setelah “keluarga”

“Dalam hidup ini kita sering terbalik mengatur “urutan”, yang mestinya diletakkan di hal yang utama malah kita letakkan di belakang dan sebaliknya,” ujar si ball-boy tersenyum dan setengah berteriak  “Asyik…aku makan pagi gratis lagi nih!!”

Terjun-Payung-Public-Speaking-Charles-Bonar-Sirait

Terjun payung vs Public Speaking

Beberapa waktu lalu lembaga kami pernah mengajukan survei berisi beberapa pertanyaan kepada beberapa profesional seputar Public Speaking & Public Presentation.

Salah satu butir pertanyaannya adalah: “Mana yang lebih menyeramkan: berbicara di depan publik atau berolahraga dari ketinggian seperti Bungy Jumping atau Terjun Payung?”

Hasilnya,  90% responden menulis lebih baik mengikuti terjun payung atau bungy jumping. Ketika saya membaca lebih detail lagi alasan mengapa mereka takut akan aktivitas berbicara di depan publik, sebagian besar menjawab:

Saya tidak terbiasa berbicara di depan publik
Saya tidak bisa mempersiapkan materi presentasi dalam waktu cepat
Saya orangnya cepat grogi, nervous, suara saya terbata-bata kalau berbicara di depan publik, apalagi kalau saya tidak tahu siapa publik yang saya hadapi
Saya grogi kalau ditanya penonton
Saya takut dicemooh/ejek apalagi kalau salah memberikan pernyataan
Saya ini orangnya tidak terlalu pintar, saya takut dan malu kelihatan makin tidak pintar jika saya berbicara
Saya Tidak PD (Percaya Diri) dengan penampilan, sebab saya pernah punya pengalaman buruk(Traumatic)
Tugas saya bukan berbicara, saya memimpin proyek saja. Urusan ngomong itu tugasnya Humas (Public Relations), bukan tugas saya!
Dan banyak lagi alasan-alasan lain, tapi itulah jawaban umum dari para profesional di sebuah perusahaan yang  kami survei perilakunya.

MENGAPA PRESENTASI  ATAU KESEMPATAN BERBICARA DI DEPAN PUBLIK SERING DIHINDARI PUBLIK?

DEDE YUSUF Wakil Gubernur Jawa Barat  dalam buku kami The Power Of Public Speaking Kiat Sukses Berbicara Di Depan Publik menuliskan pendapatnya seperti demikian:

“Saya mengerti Public Speaking atau presenter secara otodidak, awalnya saya juga memiliki ketakutan,  kebetulan Charles yg mengenalkan saya beberapa teknik-teknik public speaking. Membaca buku Charles, sangat menarik sekali, karena banyak materi-materi yang pernah saya lakukan di dalam pekerjaan namun tidak terpikir darimana dan bagaimana cara menyusun materi-materi itu. Kini saya berkecimpung dalam dunia politik dan kemasyarakatan. Sebagai politisi kehadiran saya di atas panggung ketika berbicara dengan masyarakat memerlukan skill tersendiri, dari  pengalaman saya dibidang public speaking, MC dan presenter inilah saya mendapatkan skill tersebut.  Hanya mengubah sedikit saja ‘message’ atau pesan yang ingin disampaikan ternyata membawa dampak yang luar biasa.”

Berbicara di depan publik saat ini telah menjadi kebutuhan semua orang, karena di era kompetisi yang serba cepat seperti sekarang semua profesi menuntut kemampuan untuk dapat berbicara di depan Publik serta melakukan presentasi dengan  baik. Mulai dari profesi Marketer, Sales, atau Pemimpin perusahaanm bahkan pelajar sekalipun, publik kini menuntut sebuah profesi mampu menjelaskan secara lisan apa yag menjadi isi pemikirannya, isi proposalnya, kehebatan produk atau jasa yang ditawarkannya.

Tidak dapat dipungkiri Salah satu Pilar SUKSES dari Barack Obama Presiden Terpilih Amerika Serikat saat ini adalah kemampuannya berbicara di depan publik. Hampir semua orang SUKSES di muka bumi ini memiliki kemampuan berbicara.

Apakah  itu Natural Gift mereka dari Tuhan? Ataukah hal itu merupakan kebiasaan yang dipupuk dan dipelajari sejak kecil?

Public Speaking Skill dan Technics bukan hanya anugerah, namun suatu ilmu yang bisa dipelajari dan dipahami jika kita mau menggunakan waktu luang kita untuk berlatih dan memupuknya. Karena “Ia” sebetulnya telah ada di dalam diri Anda sejak kita lahir ke dunia ini.  Dengan melatihnya, saya yakin  semua ketakutan Anda akan sirna.

Pertanyaannya sekarang adalah Maukah kita mempelajari dan mengundang PUBLIC SPEAKING dari dalam diri  sendiri untuk mengalahkan semua ketakutan kita?

Kalau kita belum mampu mengalahkan ketakutan dalam diri kita sendiri, kita sedang berhadapan dengan musuh paling besar dari SUKSES. Sebab untuk mendapatkan SUKSES diperlukan kemauan untuk mengalahkan ketakutan dari dalam diri sendiri, termasuk tidak terlalu cepat membayangkan hal-hal yang negatif seperti:

Bagaimana ya jika saya salah berbicara di depan publik?
Bagaimana ya kalau saya banyak mengatakan eeehhmm, aaahh  atau Verbal Graffiti dalam presentasi?
Bagaimana kalau tangan saya berkeringat?

Semua itu hanya halusinasi yang hanya akan mematikan kemampuan berbicara Anda. Semua bisa dipelajari dan semua ketakutan bisa  dikalahkan, dengan kemauan Anda untuk meraih SUKSES.

Artikel lebih lengkap dapat dibaca di Buku The Power Of Public Speaking-Kiat Sukses Berbicara Di Depan Publik diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama (GPU) (http://bit.ly/gkhTsG)

Personal-branding-CBS

Personal Branding

Tahukah Anda bahwa keputusan seseorang untuk membeli suatu produk atau membuat keputusan dalam bisnis sebagian besar dibentuk oleh rasa percaya (trust), keyakinan diri, adanya hubungan atau emosi terhadap orang atau layanan yang terkait produk itu?

Seorang yang ingin membeli polis asuransi, misalnya, mungkin memiliki hubungan emosi tertentu dengan agen asuransi tersebut yang digambarkan sebagai Financial Planner yang cerdas, bersih, berwibawa.

Ini semua persoalan branding atau pencitraan merek. Sebuah merek adalah harapan, citra, dan persepsi yang diciptakan dalam pikiran orang lain saat mereka melihat atau mendengar sebuah nama, produk, atau suatu logo.  Dalam kehidupan, sebagaimana dalam bisnis, branding lebih efektif, powerful, dan bertahan lama dibandingkan marketing atau sales dan menjadi cara paling efektif untuk melumpuhkan pesaing Anda.

Branding adalah masalah bagaimana memengaruhi orang lain, dengan menciptakan identitas merek (brand identity) yang menghubungkan persepsi-persepsi dan perasaan tertentu dengan merek itu.

Belakangan ini, branding bukan hanya buat perusahaan. Ada juga yang dikenal dengan “Personal Branding” atau pencitraan merek pribadi.  Personal Branding menjadi lebih penting ketimbang branding perusahaan karena, suka atau tidak, orang lebih percaya kepada “orang” atau individu ketimbang sebuah nama perusahaan.

Dalam kaitannya dengan presentasi bisnis, Personal Branding merupakan sebuah “jalan pintas” agar ide-ide Anda lebih mudah diterima oleh audiens.

Ada istilah “tak kenal maka tak sayang” yang sejalan dengan prinsip Personal Branding. Jika audiens Anda sudah mengenal Anda dengan baik siapa Anda, maka sebenarnya Anda sudah memenangkan “pertempuran” di depan klien Anda. Secara garis besar, cara kerja personal branding sama dengan Company Branding; mengomunikasikan nilai-nilai (value), kepribadian, dan kapabilitas kepada para audiens untuk menghasilkan respons emosional yang positif.

Memiliki reputasi profesional atau brand kelihatannya menjadi aset yang amat penting di era online, virtual, dan individual seperti sekarang ini.

Dalam tulisan ini saya sengaja menyinggung Personal Branding sebagai bekal bagi seorang presenter untuk menjalin ikatan emosional dengan calon audiens.

Dengan mengembangkan Personal Branding, penerimaan audiens akan lebih baik karena merasa mengenal secara pribadi dengan Anda sebagai presenter dan pada akhirnya akan menerima pesan yang Anda sisipkan dalam slide-slide presentasi Anda.

Setelah membaca tulisan ini, kita diharapkan dapat mempelajari lagi hal-hal terkait :

  1. Membangun, mengimplementasikan, dan membina Personal Brand yang otentik, unik, relevan, konsisten, bermakna, komplet, menarik, menginspirasi, bertahan lama, mudah dimengerti, ambisius, persuasif, dan mudah diingat.
  1. Menciptakan persepsi dan emosi positif dalam alam pikiran calon klien

Anda (bahwa Anda berbeda, spesial, unik, dan otentik) berdasarkan Personal Brand Anda.

  1. Membangun hubungan yang harmonis, jujur, dan bertahan lama

dengan klien Anda, membuat koneksi emosional dengan mereka, dan mengelola ekspektasi dan persepsi itu secara efektif.

  1. Mengelola dan memengaruhi bagaimana orang menilai Anda.
  1. Menggunakan personal brand Anda untuk mengomunikasikan layanan unik Anda yang menawarkan nuansa nilai untuk audiens Anda yang

sejalan dengan mimpi Anda, tujuan hidup, nilai-nilai, passion, kompetensi, dan hal-hal yang Anda suka lakukan.

  1. Membangun citra diri yang terpercaya, yang bersAndar pada nilai-nilai murni Anda, keyakinan, mimpi, dan kejeniusan Anda.
  1. Menjadikan diri Anda berbeda, terpisah dengan yang lain, menjadi otentik, dan menciptakan identitas yang membuat orang tidak bisa

melupakan Anda.

  1. Meningkatkan kemampuan kompetisi perusahaan Anda.
bangun-komunikasi-anak-charles-bonar-sirait

Membangun komunikasi dengan Anak

Komunikasi merupakan hal yang mudah diucapkan, bisa dipelajari, tapi sulit dilakukan. Secara teorinya, kita butuh komunikasi yang lancar untuk bisa menjalin hubungan. Namun, pada saat-saat tertentu, kita seringkali terlupa bahwa komunikasi yang sukses harus terjalin dua arah.

Dalam sebuah pelacakan di sebuah situs internet ada tips dari Nanny Stella, pengasuh dari acara televisi Nanny 911 asal Inggris yang sempat mampir ke Jakarta pada bulan Desember 2009 lalu mengenai cara berkomunikasi di dalam keluarga.

Menurut Nanny, komunikasi itu dimulai dengan mendengarkan. Kaitannya dengan hal ini, coba Anda mengingat-ingat lagi, kapan Anda menyediakan waktu, perhatian, telinga, dan pikiran Anda untuk salah seorang anggota keluarga?

Jika Anda ingin didengar, mulailah dengan mendengarkan orang lain. Dan jangan lupakan pula hal-hal berikut kalau Anda ingin memulai komunikasi dengan anggota keluarga, yaitu:

  • Konsisten

Jika Anda tidak konsisten dengan perkataan Anda, pasangan dan si kecil akan sulit untuk bisa percaya pada Anda. Kekurangan respon akan memberi mereka kesempatan untuk berkuasa dan mengambil alih “kursi kepemimpinan” untuk meneror Anda.

 Utarakan maksud Anda yang sebenarnya

Anak-anak harus tahu bahwa mereka bisa mempercayai omongan Anda. Caranya? Karena Anda selalu melakukan apa pun yang Anda katakan. Mereka butuh janji dari Anda, dan mereka menantikan penerapan janji tersebut. Pasangan Anda pun perlu tahu bahwa ia bisa mengAndalkan Anda.

  • Ajarkan si kecil cara berkomunikasi

Ajarkan anak Anda untuk menggunakan kata-katanya sendiri mengenai perasaannya, bukan dengan rengekan atau bertingkah menyebalkan. Anda pun perlu memberikan contoh kepada mereka. Misal, katakan bahwa Anda akan sangat bangga kepadanya jika ia bisa mengatakan apa yang ia ingini dengan kata-kata, bukan dengan rengekan. Jangan lupa katakan kata-kata yang melambangkan kasih sayang Anda kepada mereka.

  • Jangan memberi label pada si kecil

Jangan pernah memberi cap tentang siapa diri si kecil. Jangan terucap dari mulut Anda akan siapa dan bagaimana ia. Misal, “Andi itu anaknya pemalu” atau “Andi sangat jago olahraga tapi buruk di Matematika”. Biarkan saja ia tumbuh seperti apa adanya, biarkan ia melakukan apa yang ia sukai. Rengkuhlah ia dan apa pun kelebihan-kekurangan yanga ada di dirinya.

  • Sejajar

Ketika anak sedang merasa kesal, sedih, atau tidak bahagia, coba bicara padanya. Mendekatlah, upayakan untuk berada selevel dengan matanya. Sedikit sentuhan pada tangan juga bisa membantunya tenang. Jika ia memalingkan wajahnya dari Anda, coba pegang dahunya, dan perlahan hadapkan wajahnya ke wajah Anda. Biar ia tahu bahwa Anda dekat dan bisa ia percayai untuk bersAndar, dan bahwa Anda pun bisa jadi temannya.

  • Bicara dengan nada yang bulat

Anak Anda harus bisa mengetahui bahwa ia bisa mempercayai Anda. Dengan begitu, ia akan mau mengikuti perintah Anda agar ia mau disiplin. Ia juga butuh afirmasi bahwa Anda mencintainya. Kontrollah rasa frustasi Anda.

  • Ulangi perkataan si kecil

Mengulangi apa yang ia katakan membuatnya mengetahui bahwa Anda memahami apa yang ada di pikirannya dan yang ia rasakan. Jangan pernah menyelanya ketika ia sedang bercerita. Biarkan ia bercerita sesuai bahasanya. Sesekali, ketika ia terbata-bata dan tak tahu mau menggunakan kata apa, Anda bisa membantunya dengan menyarankan sebuah kata yang sekiranya pas. Rangkumlah hasil curahan hatinya tersebut.

 Tunjukkan rasa senang

Senyuman, pelukan, humor, apa pun cara Anda untuk menunjukkan bahwa Anda merasa senang, tunjukkanlah. Anak Anda akan mengekspresikan dirinya lebih bebas jika Anda lebih tenang dan terbuka.

  • Ajari si kecil untuk melatih napas

Ketika ia sedang menahan marah dan tangis, akan ada saat-saat ia sulit bernapas, ajari ia untuk melatih napasnya. Ambil pula waktu untuk time-out jika ia atau Anda sedang sangat marah dan sulit untuk mengontrol emosi itu. Ambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Jangan bicara ketika sedang emosi. Tak ada hal baik yang bisa didapat dengan bicara sambil marah-marah.

Adalah tanggung jawab “KITA”  untuk menciptakan sebuah rumah yang aman, seimbang, dan nyaman, baik secara fisik maupun emosi.  Anak-anak belajar segalanya dari orangtuanya, khususnya cara berkomunikasi dan berekspresi.  Jika Anda dan pasangan tidak baik dalam berkomunikasi satu sama lain, Anda akan kesulitan untuk berbicara dengan anak Anda. Menutup diri, merajuk, dan diam (tidak membahas apa yang salah) akan menjadi contoh untuk anak Anda. Tempat penitipan anak, televisi, video games, televisi, ataupun teman-teman si anak bukanlah penyebab kurangnya komunikasi antara Anda dan anak Anda.

Kitalah sebagai orang tua yang bertanggungjawab menciptakan komunikasi yang “baik” antara dengan si kecil.

Success-Starts-Communications-CBS-Blog

Without Suffering there is no wisdom

I am speechless. Saya tersungkur, terdiam dan lunglai; manakala membaca ulang judul artikel ini; judul ini  terinspirasi dari seorang penderita Thalassaemia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta beberapa jam sebelum saya menulis artikel ini.

Sejak komitmen penyerahan royalti buku The Power Of Public Speaking yang saya tulis bagi para penderita Thalassaemia, suka atau tidak suka, ada atau tidak ada waktu, sedang dalam kondisi capek atau sehat;  saya akhirnya menuntut diri sendiri untuk mengerti secara umum mengenai apa itu Thalassaemia. Salah satu konsekwensinya akhir-akhir ini saya sering bertemu dengan para penderita penyakit genetika ini.

Thalassaemia adalah kelainan darah yang diderita umumnya sejak anak-anak dari pasangan orangtua pembawa sifat Thalassemi, sampai saat ini penderita belum dapat disembuhkan.

Secara umum, mereka mengalami pembesaran hati dan limpa, kulit kehitaman, mata kekuningan, sel darah merah mereka kecil dan mudah pecah.

Penanganan yang dilakukan untuk mereka hanya transfusi darah yang dilakukan terus menerus. Namun  seringnya transfusi,  di sisi lain menyebabkan penumpukan zat besi dalam tubuh  penderita, yang akhirnya merusak beberapa ogan tubuh seperti limpa, jantung, tulang keropos, ginjal, dan sebagainya.

Saya sudah sering masuk ke rumah sakit, melihat darah pun sudah sering,  namun entah mengapa beberapa jam yang lalu saya menjadi kikuk, dan diam seribu bahasa.

Thalassaemia Centre di RSCM Jakarta buka mulai hari Senin sampai Jumat. Sejak pagi sampai sore ada sekitar 40 (empat puluh) bangsal di sana yang mampu menampung sekitar 100 (seratus) penderita setiap harinya. Tiap penderita yang menerima transfusi darah rata-rata membutuhkan 2 sampai dengan 3 jam waktu transfusi, sebagai salah satu cara agar mereka dapat bertahan hidup selain untuk mengobati sakit, ngilu, nyeri, panas  yang selalu datang seminim-minimnya 1 (satu) kali dalam sebulan atau yang sering disebut oleh para penderita dengan istilah “DROP”, jika mereka terlambat untuk transfusi darah saat “DROP” datang mereka akan meninggal.

Secara medik proses transfusi darah ini dianggap sebagian penderita hanya sebagai cara sementara untuk “memperpanjang” kehidupan mereka. Data statistik pusat Thalassaemia April 2010 menunjukkan usia tertinggi para penderita berada di rentang 25 s/d 30 tahun. Artinya jika mereka mampu bertahan hidup selama 30 tahun, paling sedikit dibutuhkan 360 (tiga ratus enam puluh kali kunjungan ke Thalassemia Centre untuk transfusi darah, arti yang lain adalah kecil kemungkinan penderita melewati umur 30 tahun, arti lain yang lebih ekstrim sesungguhnya adalah;  mereka sedang menunggu hari-hari terakhir mereka setelah mereka meniup lilin kue ulang tahun ke 30 di hidup mereka.

Ada yang mampu bertahan hidup, namun tak sedikit juga yang pergi meninggalkan kita. Sedikitnya dibutuhkan dana Rp 300 juta untuk transfusi darah selama setahun.

Saya terdiam, melihat ke langit-langit RSCM dan saya berujar dalam hati “lengkap sudah penderitaan kawan-kawan baru saya ini”,  belum sempat bulir air mata di ujung kelopak mata menetes, terkaget saya ketika tangan kecil seorang penderita bernama Anjar mengajak saya naik ke lantai berikut dari gedung itu yang dibuat menjadi studio band mereka;   untuk menyaksikan penampilan BANTAL (Band Thalassaemia), mereka menyanyikan semua lagu yang populer di blantika musik Indonesia, kualitasnya BETI (Beda-Tipis) dengan penyanyi aslinya, mereka profesional.

Seorang dokter yang kemudian saya ketahui namanya Lia dan jabatannya adalah kepala Thalassaemia Centre; bercerita betapa sulitnya mereka menjalankan tugas-tugas non medik yaitu memberikan semangat bagi para penderita untuk terus berkarya dalam mengisi waktu mereka, karena tidak sedikit dari mereka yang putus asa ketika mengetahui bahwa harapan hidup mereka terbatas;  hal itu justru akan menambah cepat kepergian mereka.

Saya kembali menghampiri penderita yang sedang berlatih lagu baru mereka, kemudian menggugah saya bertanya, “Apa yang membuat kamu begitu kuat dan lebih bersemangat dibandingkan dengan orang2 yang sempurna secara fisik?”

Mereka menjawab begini, “Dengan thalassaemia kami mengenal apa arti penderitaan dalam hidup; dan itu yang membuat kami mampu menyikapi hidup ini lebih bijaksana; buat kami hidup harus terus berjalan, dan penderitaan adalah salah satu alat bagi kami untuk dapat hidup lebih bijaksana untuk dapat memperpanjang kehidupan kami.”

“Without suffering there is no wisdom”

Saya ingin mempersembahkan artikel kali ini untuk para penderita Thalassaemia yang telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya;  dan Hari Thalassaemia International yang diperingati setiap tanggal 8 Mei 2010.

BERTUMBUH-BUTUH-HARMONISASI

Nilai

Dalam sebuah penerbangan 4 minggu lalu,  setelah cukup sering bepergian dari satu kota ke kota lain di Indonesia dalam rangka memberikan pelatihan, memori saya secara refleks mulai membandingkan kota-kota tersebut dengan kondisi 10 (sepuluh) tahun yang lalu, dimana saya juga pernah menyambanginya. Saya merasakan denyut perubahan itu baik secara fisik yang kasatmata maupun yang sifatnya nonfisik.

Banyak faktor yang membuat “daerah” berubah, hal-hal yang dahulu dipunyai Jakarta misalnya, sekarang mereka punya : BAndara Udara yang Megah,  Pusat Perbelanjaan dan Hiburan  Modern, Gedung Bank Nan Megah, Jalan mulus yang menyambungkan

Kota dan desa setingkat kabupaten, sekolah, perguruan tinggi swasta yang bermutu yang dahuklu hanya dimiliki oleh kota besar seperti Jakarta , Bandung dan Yogyakarta .

Gelombang tuntutan Otonomi daerah yang marak di era reformasi rupanya semakin  memperlihatkan buahnya, daerah semakin termotivasi mengurus sendiri daerahnya dengan lebih baik.

Salah satu Majalah Bisnis Nasional ternyata melakukan Survei “The Most recommended Cities to Invest” mereka melakukan serangkaian aktifitas survey terkait atas kota-kota di Indonesia : Kepuasan (Nilai/Indeks Kepuasan() dan Tingkat Rekomendasi (Nilai/Indeks Rekomendasi).  Untuk menentukan Indeks kepuasan, parameter yang dinilai meliputi : Supporting Business, doing business, dan developing business. Sementara, penentuan Indeks rekomendasi menggunakan Net Promotor Score. Score (Nilai) dari  dua aspek (Kepuasan dan Rekomendasi) itu lalu digabung, dan lahirlah Indeks Kepuasan dan Rekomendasi (IKR), yang terbaik tentu saja jika pengusaha merasa sangat puas, dan kemudian sangat merekomendasikannya ke pengusaha lain untuk berinvestasi di kota tersebut.

Hasilnya Jakarta hanya menempati urutan ke 13 di bawah : Pekanbaru, Bandung, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Makasar, Palembang, Bogor(kota), malang(Kabupaten), Tangerang (kota), dan berada  di atas Medan, Kediri, Deli Serdang, Malang(kota), Padang, Semarang,Batam.

Jika diamati secara keseluruhan, kota terpilih terlihat menonjol dinamika ekonominya, antara lain banyak terdapat gerai ritel modern, bank, sebagai beberapa indikator.

Tim Penilai dari majalah tersebut merumuskan setidaknya terdapat beberapa hal di bawah ini yang menyebabkan sebuah kota dapat memiliki NILAI yang tinggi dan Di Rekomedasikan, antara lain :

  1. Kota tersebut mampu melahirkan banyak “Kreatifitas”
  1. Kota tersebut dipimpin oleh Pemimpin yang Visioner
  1. Kota tersebut menunjukkan Perubahan
  1. Tingkat Kepercayaan Diri manusia di daerah tersebut meningkat

Saya terdiam sejenak membaca hasil survey majalah tersebut  dan membayangkan bagaimana kalau suatu saat Tuhan mem-Publish “The Most

recommended People To Invest”, nilai-nilai apa yang seharusnya diberikan manusia kepada TUHAN agar manusia boleh menempati peringkat teratas dan direkomendasikan kepada manusia lainnya karena NILAI yang ia Miliki dalam kehidupan dan yang ia berikan kepada TUHAN?

Apa saja indikator penilaian TUHAN bahwa seorang manusia layak menerima Investasi.

Charles-Bonar-Sirait-Novel-Danau-Toba

Bertumbuh butuh harmonisasi

Dalam sebuah diskusi ekonomi di Jakarta tentang “Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ” beberapa minggu lalu berkumpul para pakar ekonomi di sebuah diskusi dengan media

Sementara kedua pakar senior mengemukakan bahwa untuk mencapai “pertumbuhan” diperlukan struktur, sumber daya manusia berkualitas, mobilisasi seluruh potensi sumber daya manusia, salah seorang pembicara muda justru mengemukakan pemikiran yang lain. Ia ia mengingatkan dimana pluralistik sangat menonjol di Indonesia maka jika ingin mencapai sebuah “Pertumbuhan” yang dibutruhkan adalah HARMONISASI (Hubungan yang baik di-antara para manusia)

PERTUMBUHAN adalah Hubungan Antara manusia

Salim Kartono dalam bukunya “CE-Balance The Road To Seko Bansai” menegaskan bahwa pertumbuhan adalah sebuah periode dimana kita dapat meningkatkan kinerja dari tahapan : BAD, meningkat menjadi  GOOD, kemudian meningkat lagi menjadi GREAT. Pertumbuhan dan Sinergi pada dasarnya adalah serangkaian peristiwa di seputar “Hubungan Antar Manusia”. Untuk mencapai Tingkatan “GREAT” diperlukan 3 Derajat Hubungan antara Komunikasi

PERTAMA, HUBUNGAN CONFLICT 

Pada derajat ini terjadi ketidaksesuaian yang kentara antara pesan yang dikomunikasikan dengan tindakan eksekusi pesan. Sumbernya dapat berasal dari salah satu hal atau kombinasi keduanya; komunikasi yang terlalu menjanjikan atau eksekusi yang tidak dapat dipenuhi. Setiap kali konflik komunikasi dan eksekusi terjadi maka akan terjadi pengikisan kredibilitas pemimpin dan organisasi-nya. Hal ini terjadi karena pesan yang di-komunikasikan pemimpin biasanya dianggap sebagai Representasi suara organisasi dan janji kepada stakeholder yang harus ditepati

KEDUA, HUBUNGAN COMPROMISE

Pada derajat ini terjadi keselarasan antara komunikasi dengan eksekusi secara teknis. Keselarasan ini dibuktikan dengan tercapainya target kinerja. Namun sayangnya keberhasilan  itu tidak mampu sampai menjangkau motivasi dan komitmen anggota organisasi. Kondisi ini terjadi pada organisasi-organisasi yang berkinerja baik.

KETIGA, HUBUNGAN COLLABORATIVE

Inilah derajat yang paling sempurna dari hubungan komunikasi dan eksekusi dimana keharmonisan hubungan tercipta bukan saja secara teknis namun juga secara emosional. Komunikasi yang efisien dan eksekusi yang efektif telah menjadi bagian dari budaya organisasi. Hasilnya adalah  tercapainya target kinerja dengan produktifitas, efisiensi, serta tingkat pertumbuhan.

Sama dengan proses membangun sebuah gedung, yang dapat menyiratkan sebuah proses pertumbuhan; dimana dimulai dari dibutuhkannya sebuah ide dan desain gedung, lalu dikomunikasikan dengan tim pembangun, selanjutnya setelah sepakat  dilakukan eksekusi pemancangan tiang pancang sampai dengan mengisi gedung dengan asesories, begitulah sebuah “pertumbuhan” dapat dilihat dari konteks komunikasi

Success-Starts-Communications-CBS-Blog

Success starts from communications

Minggu lalu saya bertemu dengan beberapa orang tokoh yang mencalonkan diri sebagai calon legislatif dan sampai tulisan ini diturunkan mereka telah mendulang suara yang sangat signifikan untuk perolehan kursi yang mereka incar di legislatif. Ketika saya bertanya, “Apa rahasia sukses Anda?”, mereka menjawab singkat “Kemampuan Ber-komunikasi!!”

Karena tertarik dengan kata Komunikasi dan dengan maksud ingin lebih mengerti apa pengertian itu di benak orang lain, maka minggu depannya lembaga pendidikan komunikasi yang kami kelola kemudian menyebarkan angket di sebuah perkumpulan profesional di bidang perminyakan di daerah Kuningan Jakarta Selatan.

Salah satu pertanyaan angket itu adalah, “Mengapa menurut Anda kemampuan berKomunikasi penting untuk dimiliki? jawaban angket tersebut beragam, berikut beberapa jawaban yang saya anggap menarik untuk saya bagikan :

·        Agar saya dapat memberikan instruksi kepada orang lain dengan tepat

·        Komunikasi dapat membuat hidup saya jauh lebih simple, bebas dari masalah

·        Agar saya dapat mengetahui bagaimana sebetulnya cara berkomunikasi dengan pihak atasan

·        Agar saya dapat lebih rendah hati saat saya berbicara

·        Agar saya bisa menghemat waktu, dibandingkan harus menulis proposal berlembar-lembar saya ingin menyampaikan saja secara lisan dan

         langsung

·        Sebab Komunikasi membuat saya berpikir dan bertindak lebih Fokus

·        Komunikasi memaksa saya untuk bertindak lebih kreatif

·        Saya memerlukan berbagai alasan sebelum saya berbicara di depan publik

·        Karena saya ingin berbicara tanpa batas, saya ingin mengetahui teknik-tekniknya

·        Saya tidak tahu harus merespons apa saat mendengarkan orang lain berbicara

·        Saya ingin terlihat jujur dan tulusa saat berbicara

·        Saya tidak ingin menyakiti perasaan orang lain saat saya menolak permintaan atau idenya

·        Karena Komunikasi dapat membuat saya lebih ekspresif

·        Karena saya suka berdebat

·        Karena tugas baru saya menuntut daya lebih sering berbicara di depan publik

·        Karena saya ingin memperbaiki sikap berbicara yang buruk

·        Karena saya terlalu sering berbicara saat rapat berjalan

·        Karena saya ingin dapat menjadi inspirasi bagi orang lain

·        Karena saya lemah dalam kemampuan mendengarkan pesan orang lain

Pernyataan-pernyataan di atas menyiratkan betapa pentingnya kemampuan berkomunikasi, namun walaupun kita telah sering mendengarkan jargon ”Communication is The Key To Success” atau ”Success Starts From Communications” atau jargon lainnya, masih sering juga kita mendengar kegagalan banyak pihak dalam berkomunikasi, berbagai alasan mengemuka mulai dari ketidakpercayaan diri, salah mengartikulasikan kalimat, penampilan fisik, kurangnya persiapan atau alasan-alasan lain.

Banyak teori dan buku yang dapat menjelaskan tips dan teknik, kerangka teori, namun persoalan itu kerap datang. Apakah buku-buku itu dikoleksi? Apakah buku-buku itu dibaca?

Hampir semua profesional pengisi angket tersebut mengatakan memiliki lebih dari 2 (dua) buku tentang Komunikasi. Ketika saya bertanya, ”Apakah Teori-Teori itu pernah dipraktekkan?” mereka menjawab,”Nah itu dia masalahnya, saya tidak  pernah mempraktekannya, saya  juga tidak sempat mambuka apalagi buku  itu saat saya berhadapan dengan masalah komunikasi”